Uri Uri Budaya Adi Luhung, Warga Kepuhbener Gelar Pawai Ketupat Untuk Sarana Edukasi Generasi Milenial

NGANJUK, MEMO – Tradisi pawai Ketupat di lingkungan RT 01 RW 09 Dusun Puhbener Desa Kedungrejo Kecamatan Tanjunganom, Nganjuk sampai saat ini masih eksis dijadikan agenda tahunan warga setempat

Seperti hari ini ( Rabu, 17/04/2024) tidak kurang dari ratusan warga dengan mengenakan busana adat Jawa tumplek blek turun ke jalan guna memeriahkan prosesi pawai ketupat atau warga menyebutnya dengan istilah grebek kupat lepet.

Read More

Barisan pawai secara simbolis diberangkatkan dari garis start pada pukul 07.30 WIB oleh Kepala Desa Kedungrejo, Sujarwo usai memberikan ular ular ( sambutan ).

Dalam sambutannya, kades menyampaikan seputar pentingnya uri uri budaya warisan leluhur untuk dijadikan wahana edukasi kepada generasi milenial yang rentan masih awam dengan budaya asli pribumi yang sarat tuntunan moral.

Memaknai kegiatan ini (pawai ketupat) ditegaskan Sujarwo bukan hanya sekedar mengambil sisi kemeriahannya saja,lebih dari itu dengan agenda tahunan ini bisa dijadikan wahana edukasi khususnya kepada generasi android dan tidak kalah pentingnya sebagai ajang silahturahmi antar warga. ” Buahnya adalah guyub rukun,” sambutnya.

Dari pantauan wartawan Memo, prosesi pawai ketupat ini terkesan unik.Tidak hanya karena atribut peserta pawai,namun ada yang lebih sakral.Yaitu ada proses arak arakan gunungan ketupat yang dibawa ke Masjid Al Huda dan diserahkan secara simbolis kepada kyai setempat untuk di doakan melalui tahlil bersama. Setelah itu gunungan ketupat dibagikan kerumah rumah warga.

“Kesan guyub rukunnya sangat kental dan patut di apresiasi,” terang Ki Luqman Ketua Lesbumi PCNU Kabupaten Nganjuk yang hadir dalam kegiatan tersebut.

Sementara itu dikatakan H.Subekan selaku tokoh agama setempat saat memberikan ular ular seputar filosofi ketupat lepet disampaikan secara detail. Mulai dari arti bahasa ketupat sampai pesan moral yang terkandung di dalamnya.

” Kenapa kupat selalu dibungkus dengan janur? Hal itu dikarenakan janur berasal dari kata Arab Ja’an-nur yang artinya telah datang cahaya. Bentuk fisik kupat yang segi empat ibarat hati manusia. Ketika seseorang mengakui kesalahannya, hatinya akan seperti kupat yang dibelah. Pasti isinya putih bersih. Hati yang tanpa adanya rasa iri dan dengki. Kenapa bisa begitu? dikarenakan hatinya sudah dibungkus dengan cahaya,” papar H,Subekan dihadapan peserta pawai saat berkumpul di halaman masjid Al Huda Puhbener Kedungrejo. ( adi )

@Mulyadi
Author: @Mulyadi

Wartawan MEMO Nganjuk, Seniman Lukis

Akses Gratis tiap pekan, Majalah Memo digital, e-Book Memo dan e-Course Memo Talenta , via Group WA Klikdisini, atau TELEGRAM Klikdisini

Related posts